[Article] Kehilangan di Femina

Femina edar 5 - 11 September 2015 lalu memuat artikel Gado-Gado yang saya kirimkan pada awal November tahun lalu. Pertama dimuat di Femina. Hasil tantangan di Penulis Tangguh untuk membuat artikel Gado-Gado yang tidak biasa. Tidak biasa memang, karena Gado-Gado yang satu ini mellow. Banyak dipotong mungkin karena kebanyakan. Di bawah ini aslinya yang saya kirim dengan tanda strikethrough yang berarti dipotong dan tanda kurung yag berarti disunting oleh Redaksi.  

Bila Tiba Waktuku. Kehilangan.

Kematian selalu menoreh duka bagi yang ditinggalkan. Namun kata orang bijak, sesungguhnya kematian membawa hikmah bagi kita yang masih hidup. Sewaktu kecil, beberapa kali saya mengalami ditinggal mati oleh Nambo, Angku, Eyang, yang semuanya memang sudah berusia lanjut. Namun ditinggal mati oleh teman seusia, saya alami pertama kali setelah lulus SMA. 


Perkuliahan tahun pertama baru saja dimulai ketika saya menerima berita itu. Seorang teman tewas karena kecelakaan motor ketika melaju pada rute Jakarta – Bandung. Dia memang baru saja diterima di sebuah universitas di Bandung. Kematiannya mengagetkan kami teman-teman dan para guru SMA. Seorang guru berkata, “Allah sayang padanya sehingga ia dipanggil lebih cepat. Mungkin lingkungan perkuliahannya yang baru ini tidak baik untuknya.” 

Peristiwa berikutnya terjadi ketika saya baru masuk kerja. Seorang teman menghembuskan nafas untuk selama-lamanya. Saya merasa sangat kehilangan. Kami memiliki tanggal lahir yang sama, namun usia kami berselisih setahun. Setiap hari kelahiran kami, dia orang pertama di luar keluarga yang akan mengucapkan selamat, karena saya tidak terlalu peduli dengan ulang tahun.


Kenangan yang intens justru [dengannya adalah]saat kami beranjak remaja. Dia yang mengajarkan saya menyetir mobil. Dia bersama saya ketika mobil yang saya kendarai mundur di tanjakan. Dia juga bersama saya ketika dengan cerobohnya saya meninggalkan kunci mobil di dalam padahal mesin masih dalam kondisi menyala.

Dia [juga] yang bolak-balik memeriksa keadaan keluarga saya ketika kerusuhan tahun 1998 yang meninggalkan banyak duka [itu]. Saat itu saya hanya berdua di rumah dengan Ibu saya. Bapak dan Adik laki-laki saya di luar kota. Dia juga yang bersemangat mengantar saya mencari kost ketika saya akan melanjutkan kuliah di kampusnya.

[Penyakit] Demam berdarah merenggut nyawanya. Namun saya tidak dapat terlalu lama berduka karena ibu saya lah orang [justru] yang merasa lebih kehilangan. Dia sudah seperti keluarga sendiri. Kami terbiasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba di pagi hari hanya untuk sekedar menumpang baca koran. 

Kehilangan berikutnya terjadi ketika saya baru melahirkan anak pertama. [Kali lain] Teman sejak kecil dimana kenangan terindah berasal dari masa kanak-kanak kami, [meninggal akibat narkoba]. Beranjak remaja dia hanyut dalam penggunaan obat terlarang. Kebiasaan itu juga yang merenggut nyawanya. Sesungguhnya sudah sejak lama saya marah [kepadanya atas kebodohannya terjebak obat terlarang itu].padanya. Marah karena dengan bodohnya dia terjebak obat terlarang itu. Padahal dia anak baik dan berhati lembut. Ibu saya biasa menitipkan saya padanya bila ada acara di sekolah yang mengharuskan kami pulang malam. Jarak antara rumah dengan SD kami saat itu tidak jauh, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Namun penerangan listrik yang belum masuk ke area itu menyebabkan jalan gelap gulita setelah magrib.

Saya marah, namun belakangan menyesal.
Toh saya tidak pernah berusaha melakukan apa pun untuk menarik dia dari jurang kehancurannya. Sejak lulus sekolah dasar, kami berjalan terpisah, tenggelam dengan dunia kami masing-masing. Saya seorang teman yang tidak berguna.  

Tahun 2012 merupakan tahun berduka karena saya dan suami kehilangan teman kami masing-masing secara tiba-tiba. Seorang teman kerja saya dikabarkan tewas saat pulang kerja karena terjatuh dari KRL akibat seorang pencopet tiba-tiba menarik telepon selulernya. Saya baru menerima kabarnya keesokan pagi ketika akan berangkat kerja. Sepanjang perjalanan saya terus terbayang awal pertemuan kami. Ketika itu saya masih orang baru di kantor. Ketika ditugaskan mengikuti pelatihan, saya berjumpa dengannya. Ia berasal dari unit lain, namun baru kali itu saya melihatnya, padahal saya merasa sudah mengenal seluruh personel unit tersebut. Dengan sopan saya bertanya, “Maaf, kok saya baru lihat ya, sibuk kemana aja nih?” Dia menjawab sambil tersenyum, “Ah, gak sibuk kemana-mana kok.” Obrolan kami mengalir dari sana dan sejak itu dia menjadi salah seorang yang sangat bersahabat yang saya jumpai di kantor. Tangis saya tumpah setiba di kantor hari itu.

Beberapa waktu berselang, suami [juga] kehilangan seorang temannya. Dia baru saja pulang dari perjalanan dinasnya di luar kota malam itu dan saya terbangun dengan kepulangannya. Saya sudah bersiap akan kembali tidur ketika telepon seluler saya tiba-tiba berbunyi. Perasaan saya selalu tidak enak bila mendapati telepon larut malam. Nomornya berasal dari nomor teman kantor suami. [Seorang wanita,] Suaranya serak dan menyiratkan kepanikan. Cukup beberapa kata darinya, spontan saya mengucapkan kalimat istirja lalu [saya langsung tahu apa yang terjadi. Saya] menyerahkan telepon pada suami agar ia mendengarnya langsung. Setelah menutup telepon, dia terduduk dan pelan-pelan berkata, “Cak Wil meninggal di rumahnya. Handphone Papa mati makanya Mbak Kiki telepon Mama. Untung dia punya nomor Mama. Papa telepon teman-teman dulu.”

Almarhum [adalah teman seperjalanan suami saya malam itu] baru saja pulang dari perjalanan dinas dengan suami. Tiba di rumah, dia tidak menunjukkan gejala apa pun. Walau lelah pulang dari perjalanan jauh, ia masih sempat bercanda dengan anak dan istrinya, [sebelum akhirnya ia dikabarkan meninggal. Umur sungguh seperti pencuri...]. Suami saya sempat terpukul karena perjalanan dinas itu di bawah koordinasinya. Saya tercekat melihat ketegaran istrinya dan kepolosan anak-anaknya yang masih kecil.

Di penutup tahun itu, saya berkata pada suami, “Bila tiba waktunya salah satu di antara kita, Mama ingin diri kita masing-masing melepas dengan tenang. Walau sedih, namun tenang karena yakin, yang pergi telah membawa bekal cukup untuk menghadap Allah. Bukan sedih mengkhawatirkan apa yang akan dihadapi di alam kubur.”
  

6 komentar:

  1. jleb banget, umur seperti pencuri, ya Allah, semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah, amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA. Terima kasih Mbak Naqi

      Hapus
  2. pengingat yang menyentuh, mudah2an kita mendapat husnul khatimah, aamiun

    BalasHapus
  3. Din... aku jadi nangis ... dibagian sahabat kita Adi Safwardi yang jatuh dari KRL. Betapa... paginya masih FB-an....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga khusnul khotimah, Amin YRA

      Hapus